Ditinggal Pelanggan, Kacab PDAM Karangpawitan Akui Tarif dan Debit Kalah dengan Sumur Bor

Garut, jurnalkotatoday.com

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Intan Garut Cabang Karangpawitan Kabupaten  Garut, belakangan ini ditinggalkan pelanggannya, sehingga terjadi penurunan pelanggan secara signifikan.

Bacaan Lainnya

Ketika hal ini diminta konfirmasi kepada Kepala Cabang PDAM Karangpawitan, Dodi Sugandi, mengakui turunnya pelanggan PDAM di cabang yang dipimpinnya. Dikatakan, di sejumlah wilayah mungkin  terjadi peralihan konsumsi air dari jaringan PDAM ke sumur bor mandiri yang dibangun warga maupun lingkungan RT/RW setempat.

“Untuk permasalahan berkurangnya pelanggan ya di  Karangpawitan khususnya, bahwa ini ada faktor penyebab di antaranya mungkin adanya banyak program yang dilaksanakan oleh warga atau lingkungan RT/RW setempat itu membuat sumur bor sendiri. Itu pas di wilayah pelayanan kami. Jadi imbasnya karena mungkin tarifnya lebih murah dibandingkan dengan PDAM, jadi mereka beralih,” ujarnya, Rabu (11/2/1926).

Dodi juga mengatakan, faktor tarif  juga menjadi pertimbangan utama masyarakat. Ia mengaku terus melakukan pendekatan kepada masyarakat agar tetap mempertahankan layanan air bersih dari PDAM. Ia menekankan bahwa dari sisi kualitas air dan standar pelayanan, PDAM memiliki keunggulan tersendiri.

“Sebetulnya kami dari rekan-rekan juga bisa menjelaskan bahwa untuk kebutuhan air bersih kami mungkin dari segi kualitas juga lebih bagus lah ya. Kemudian untuk pelayanan mungkin yang sebelumnya kami kurang bagus, kami berusaha untuk meningkatkan pelayanan kepada pelanggan,” katanya.

Salah satu persoalan yang selama ini banyak dikeluhkan pelanggan adalah terkait debit air yang tidak stabil. Kondisi tersebut, kata Dodi, sempat memicu ketidakpuasan hingga mendorong sebagian warga mengambil langkah alternatif dengan membuat sumur bor sendiri.

“Ya mungkin sebelumnya ada pengurangan debit air sehingga tidak lancar, Pak. Kemudian mereka berinisiatif membuat sumur bor sendiri. Tapi kami sekarang berusaha untuk menambah debit, kemudian memperbaiki kebocoran agar debit tetap terjaga, jangan berkurang karena kebocoran. Kami terus terang di lapangan sekarang sedang menggempur kebocoran, seperti itu,” katanya..

Ia menegaskan bahwa pihaknya kini fokus melakukan pembenahan jaringan distribusi, terutama dengan menekan tingkat kebocoran pipa yang dinilai berpengaruh terhadap stabilitas suplai air. Menurutnya, kebocoran tidak hanya berdampak pada penurunan debit, tetapi juga berpotensi memengaruhi jumlah pelanggan secara keseluruhan.

“Jangan sampai terus berkurang pelanggan karena banyaknya kebocoran, terus tiket berkurang, sehingga pelanggan beralih  ke sumur bor warga itu yang di pedesaan,” katanya.

Selain persoalan debit, PDAM Karangpawitan juga menerima keluhan terkait besarnya tagihan yang dianggap tidak sebanding dengan pemakaian air. Menanggapi hal tersebut, Doni menjelaskan bahwa dalam sejumlah kasus, ditemukan kebocoran instalasi setelah meter air milik konsumen.

“Kalau itu kami kan,  bukan hal yang baru ya seperti itu, biasanya itu ada kebocoran setelah meter di konsumen yang tidak disadari konsumen walaupun hanya sedikit, meter kan tetap jalan pak walaupun konsumen tidak merasa pakai, tapi kan kami asurannya water meter, kalau water meter kan walaupun tidak digunakan untuk kebutuhan konsumen tetapi ada yang bocor tetap jalan pak, itu mungkin nyatanya gitu, dan kebanyakan seperti itu setelah kami cek memang ada yang bocor setelah meter,” katanya.

PDAM Karangpawitan kini berupaya meningkatkan pengawasan jaringan sekaligus mendorong pelanggan untuk rutin memeriksa instalasi internal mereka. Manajemen berharap perbaikan pelayanan dan stabilitas suplai air dapat menahan laju penurunan pelanggan serta mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap layanan air bersih perpipaan. HUS/S. Zihad

Izin Edar Alat Kesehatan
Primaderma Skincare

Tinggalkan Balasan