Kota Tangerang, jurnalkotatoday.com
Kondisi ekonomi yang sulit mulai berdampak nyata pada sektor usaha mikro di Kota Tangerang. Salah satunya dirasakan oleh Hendra, seorang pedagang minuman dingin, kopi dan gorengan di Jalan H. Yusuf, Paninggilan, Kecamatan Ciledug.
Sejak awal tahun 2026, Hendra mengaku mengalami penurunan omzet yang cukup tajam akibat berkurangnya jumlah pembeli. Kondisi ini berbeda jauh dengan tahun 2025, di mana dagangannya masih ramai dan hasilnya cukup untuk menutup biaya sewa lapak dagangannya.
“Sekarang pembeli sepi sekali. Padahal saya harus membayar biaya kontrakan rumah dan tempat usaha yang totalnya mencapai satu juta rupiah per bulan,” kata Hendra kepada media, Minggu (2/8/2026).
Menurut Hendra, sepinya pembeli mungkin disebabkan oleh menurunnya daya beli masyarakat di sekitar tempat usahanya. Ia melihat saat ini banyak warga sekitar yang kehilangan pekerjaan atau menganggur. Selain itu, beberapa usaha rumahan milik tetangganya juga ikut bangkrut.
Faktor lain yang memperparah situasi adalah banyaknya warga pengontrak yang memilih pindah dan pulang ke kampung halaman. Akibatnya, banyak toko di sekitar lapak Hendra yang terpaksa tutup, karena tidak mampu lagi memperpanjang biaya sewa.
Melihat situasi yang kian sulit, Hendra berharap adanya perhatian dari Pemkot Tangerang. Ia memohon agar pemerintah daerah memberikan keringanan dengan membebaskan segala bentuk pungutan atau retribusi bagi para pedagang kecil ekonomi lemah seperti dirinya.
Penulis: Argo

