Senioritas Itu Pengakuan Nyata Masyarakat

Oleh Suryadi

Sekolah yang sesungguhnya itu ada di masyarakat. Kalimat bijak ini ingin menyatakan, masyarakat adalah tempat sajati uji kematangan ilmu hidup.Tanpa disadari pengakuan semacam itu keluar dari kejujuran seorang marboot Masjid Al-Fatah Rajabasa, Kota Bandar Lampung, Muhammad Tankim A.L tentang keberadaan sosok yang diakuinya berpengaruh dan berjasa dalam pembangunan fisik masjid (Ir. Syafrudin) dan pengembangan ke-ummatan. Di masa lalu Tankim sendiri guru swasta dan pekerkja proyek bendung di daerahnya.

Bacaan Lainnya

 

Masjid Al-Fatah memang belum setanding dengan Masjid Jogokariyan, Yogayakarta. Tetapi, setidaknya sudah sejak dibangun 1996 berkembang perlahan sejalan dengan pembangunan ke-ummatan di sekitarnya, Nama-nama yang terpatri di masjid yakni H.Maherat selaku pewakaf lahan; dan para ketua, seperti Drs. Matsani Ali Jaya, Thabrani Husein, Ir, H, Syafrudin (alm), Ir. Budiono (alm), H. Dadang Riswa Wahid (wartawan), Ir. Khairudin Mega, M.M, dan kini Mahmudin, S.H., M.H. Yang terakhir ini antara lain didampingi Istamar Arief (imam tetap/ penaehat), Ir.Muhtar Hasan (Ketua Bidang Peribadatan) serta Agus dan Tohar masing-masing sekretaris dan bendahara.

 

Sebagian besar dari mereka merupakan pensiunan PNS, termasuk Drs. Hidayatullah yang menggerakkan konsumsi ba’da shubuh dan qurban dari para jamaah. Cuma Dadang yang “pensiunan wartawan”.

 

Tankim (kanan) dan bungsunya, Ibrahim

TANKIM kelahiran 71 tahun silam. Kini ia seorang “marbootfull”. Ia sudah diberangkatkan umrah oleh para jamaah. Konon jamaah juga sudah berencana memberangkatkannya berhaji. Laki-laki asal Desa Kertajaya Jaya, (kini) Kabupaten Way Kanan, Lampung ini, memang sepenuhnya marboot Masjid Al-Fatah. (Desa Kertajaya hanya dipisahkan oleh sebuah sungai dengan Desa Mesir Ilir, asal alm. Jenderal Ryacudu, Ayah mantan Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu, mantan KSAD dan Menhan pada zamannya.

 

Cukup mengagumkan pria ini. Sebagai marboot, ia belum lama dapat “derma” dari para jamaah Masjid Al-Fatah Rajabasa Nunyai sebesar Rp 2,5 juta (UMR di Ibu Kota Provinsi Lampung ini sebesar Rp 3.491.889). “Keikhlasan jamaah itu sangat kami syukuri dengan Ikhlas pula. Ini memang sudah pilihan,” ungkap Tankim tawadhuk (sadar semua nikmat bersumber dari Allah Sang Maha pengasih lagi Maha penyayang).

 

Betapa hari-hari ini ia tak bersyukur, hijrah ke kota ini ia memang berniat menjadi marboot. Seperti tutup ketemu botol, ia lantas dipercaya orang banyak mengurusi kebersihan dan keamanan masjid. Sebelumnya, masjid ini cuma diurusi secara bergantian oleh jamaah. “Ini sudah menjadi tekad saya sejak meninggalkan pekerjaan sebagai guru mengaji di Desa Semuli Raya,” kata ayah dua orang puteri dan seorang putera ini.

 

Sebelum mulai jadi marboot tahun 2002, mantan guru SLA swasta di Kota Bumi, Ibu Kota Kabupaten Lampung Utara ini, adalah guru mengaji di Semuli Raya, desa tetangga Kotabumi. Sebelumnya lagi, ia karyawan proyek Bendung Way Rarem (Lampug Utara) dan Bendung Way Jepara – Waypengubuan (Lampung Tengah, kini dimekarkan menjadi Kabupaten Lampung Timur). Tamatan Sekolah Guru Agama Islam (setara SMA dan di atas PGA 4 Tahun) ini, 24 tahun silam hijrah ke Kota Bandar Lampung. Tekadnya didukung kuat keluarga, fokus ibadah urus masjid.

 

`Beruntung, ia ditampung menjadi marboot di masjid yang baru dibangun masyarakat di Gang Karya (d.h. Gg. Tangkil) Jln. Pramuka, Rajabasa Nunyai, Kota Bandar Lampung. Nama masjid itu Al-Fatah. Tak hanya pekerjaan. Kemudian, ia dibangunkan pula sebuah rumah kecil di seberang masjid. Waktu itu ia diberi oleh jamaah Rp150 ribu rupiah per bulan. Alhamdulillah.Toh dengan upah sebesar itu. dalam perjalanan hidup yang ia lalui dengan Ikhlas, ia masih diberi waktu untuk kegiatan lain yang sanafas. Ia masih sempat mengajar mengaji anak-anak ke rumah-rumah. Dari para orangtua murid mengaji, ia mendapatkan sumbangan lagi.

 

Ia bersyukur sepanjang ibadah sebagai marboot masjid, sudah meluluskan ketiga orang anaknya menjadi sarjana perguruan tinggi negeri (PTN). Anak-anaknya itu Astarika lulus dari program studi Bimbingan Konseling (BK) Fakultas Keguruan (FK) Unila. Astarika kini menempat rumah lain yang juga dibangunkan jamaah (belum rampung) dekat tempat ia jadi guru di sebuah sekolah swasta. Putri kedua, Adkonisa lulus dari jurusan Pendidikan Kewargaan Negara (PKN) Unila.

 

Seorang lagi, Ibrahim (22) baru saja lulus sarjana dari Program Studi BK, UIN Raden Intan, Bandar Lampung. Ibrahim dan Adkonisa masih tinggal di rumah kecil yang dibangunkan jamaah. Ia tinggal di situ bersama Ibu kandung mereka, Putu Ayu Sulastri yang asal Bali dan Tankim. “Bersyukur, semua bisa jadi sarjana sesuai tekad saya hijrah ke kota ini. Semua ini rezeki dari Allah melalui jamah, khususnya Pak Dadang,” ungkap Tankim, anak ke-2 dari delapan bersaudara yang rata-rata Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ayah Tankim, Fadlullah Ahmad Ladloni (alm) juga pensiunan PNS Kandepdikbud Lampung Utara, Kotabumi, Lampung Utara.

 

 

Wartawan Senior

SIAPA Dadang RW (80) yang disebut oleh Tankim? Dadang berumah sekitar 200 meter dari lokasi Masjid Al-Fatah. “Alaikumsalam… silakan-silakan, maaf … saya sedang menikmati nasi uduk syukuran marboot Pak Tankim ini. Anaknya yang bungsu Si Ibrahim baru lulus sarjana,” sambut Dadang dengan suara beratnya.

 

Mulailah meluncur pertanyaan wartawan. Tetapi, ketika ditanya soal perannya terhadap marboot, keumatan, dan kelangsungan Masjid Al-Fatah yang berkapastitas sekitar 100-an orang jamaah ini, Dadang tampak keberatan berceritera. “Itu kan cerita Pak Tankim. Itu semua berkat keiklhlasan jamaah. Saya sendiri kan murid tertua Pak Tankim,” akunya serius. Dengan keilmuan bidang agama (Islam) yang sangat terbatas, kini dia duduk sebagai “tua-tua” atau Penasihat. Bersamanya, antara lain Mahmudin (Ketua Umum Takmir), Tohar (sekretaris umum), dan Ir. Muhtar Hasan (bendahara). Hampir semua pengurus pensiunan PNS. Hanya dia yang bukan. Ia bersitrikan Yatimah Murni, seorang pensiunan guru/ PNS di Ibu Kota Provinsi Lampung. Dadang pernah menjadi Ketua yang ke-5 Al- Fatah. Ia undur diri karena merasa sudah terlalu tua.

 

Tentang kewartawanan, Dadang hari-hari ini tergabung dalam grup komunikasi para wartawan senior Lampung. Tinggal dia yang paling tua karena seperti Azis Kasyim, Harun Muda Indra Jaya, Dhani, dan Martubi Makki sudah berpulang. Di masa lalu, ia Wakil Pemimpin Redaksi koran harian Daerah Lampung “LENSA”. Terakhir beralih nama LENSA GENERASI” (LG) dan terbit di Jakarta. Pemodalnya Agi Tjetje. Pemimpim Redaksinya Azis Kasyim, dan Pemimpin Umum Solichin Bukujadi (alm). Nama “LG” disebutkan oleh Menpen (waktu itu) Ali Moertopo (alm) dalam SK pembatalan Surat Izin Terbit (SIT)-nya. “SIT Kami dibatalkan, bukan dicabut,” ungkap Dadang bersemangat.

 

Ketika bicara tentang koran dan dikatakan kini telah berdiri Serikat Wartawan Senior Indonesia (SWSI), tampak gairahnya sebagai pewarta hidup lagi. Tetapi, kini dia sudah beda, dia bukan wartawan muda yang berkejar-kejaran dengan waktu. Toh, ia tetap dikenal sebagai “wartawan pensiun”.

 

Dari jamaah sekitar masjid, terutama Tankim, terungkap singkat saja (rupanya, Dadang sudah minta tidak berceritera banyak hal tentang dirinya dalam peribadatan). Meski, ilmu agamanya pas-pasan, seperti pengakuannya terus terang, ternyata dia cukup didengar pendapatnya oleh jamaah dan majelis takmir. “Itulah tentang kami, ya berkat jamaah di sini. Termasuk saya dan keluarga, ya berkat keikhlasan jamaah,” aku Tankim.

 

Pendidikan

ORGANISASI SWSI dideklarasikan oleh para pendirinya, seperti Kemal Gani, Budiman Tanuredjo, dan Wahyu Muryadi di Jakarta, Jumat 17 Maret 2026 malam. Tujuannya, menyumbangkan intelektual kesenioran wartawanan kepada masyarakat berdasarkan pengalaman mereka yang telah menjadi saksi hidup perjalanan bangsa Indonesia. Lebih kurang Sang Ketua Umum SWSI Wahyu Muryadi malam itu menyampaikan tekat SWSI, juga menjadi wadah bagi para wartawan senior menyumbangkan pemikiran mereka telah menjadi saksi hidup perjalanan bangsa dan Negara ini.

 

Di Indonesia, Lampung khususnya, yang kerap diramaikan oleh kasus-kasus tindak pidana korupsi alias maling uang negara, pernyataan itu, tentunya akan sangat terkait dengan “moral estafet” nilai kejuran atau integritas moral. Kejujuran merupakan dasar atau anutan para jurnalis penganut jurnalisme. “Moral estafet” seperti tergambar dengan kehadiran 100-an wartawan senior malam itu. Di dalamanya Panda Nababan yang kini 82 tahun dan generasi pelanjut Meutia Viada Hafid yang (mungkin) masih 50-an. Di masa lalu Meutia adalah wartawan sebuah stasiun TV swasta. Meutia kini Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) RI.

 

Pendidikan berlangsung seumur hidup, “long life education”. Dan, Dadang RW tentu harus siap mengestafetkan nilai-nilai yang terkandung dalam kejujuran sebagai kekuatan moral jurnalis, kepada generasi pelanjut jurnalis penganut jurnalisme. Meski, kini jurnalisme hidup dia dunia yang cepat berubah. Dadang sebagai “wartawan pensiunan” telah coba membuktikan keseniorannya dalam menyaksikan perjalan bangsa ini dengan posisinya sebagai wartawan.

 

Pendidikan, agaknya, hal yang dekat-dekat dengan SWSI dalam kerangka “moral estafet” kejujuran jurnalis tadi. Jujur adalah teladan pendidikan yang tak pernah usai, baik secara langsung kepada jurnalis muda maupun lewat institusi masyarakat, seperti masjid. “Rencana ada untuk masyarakat, tapi kita belum mampu,” kata Dadang merendah.

 

Bukankah masyarakat jamaah adalah juga energi?**

 

Keterangan foto:

1, Dadang RW.

2. Tankim (kanan) dan bungsunya, Ibrahim.

3. Suryadi (penulis)

–E/ADI/DADANG–

Izin Edar Alat Kesehatan
Primaderma Skincare

Tinggalkan Balasan