Tangis Istri di Garut Mengetahui Penderitaan Suami Bekerja di Malaysia, Berharap Ada yang Membantu Pulang

Ilustrasi pekerja di kebun kelapa sawit

Garut, jurnalkotatoday.com

Keinginan sederhana untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik justru berubah menjadi kepedihan bagi Yana (38), warga Kabupaten Garut yang kini masih ‘terjebak” di wilayah perkebunan kelapa sawit di Malaysia.

Bacaan Lainnya

Menurut Elvia (36), istri Yana, kepergian suaminya ke Malaysia untuk bekerja di perkebunan kelapa sawit  dengan iming-iming penghasilan Rp. 10 juta perbulan dari pihak yang menawarkan, yakni kenalan Yana.

Diungkapkan, awalnya keberangkatan ke Malaysia,  ada kenalan yang datang ke rumahnya dan menawarkan pekerjaan di Malaysia, selanjutnya Yana bersama 3 orang temannya yang lain berangkat ke Malaysia dengan harapan mendapatkan penghasilan Rp. 10 juta per bulan.

“Tapi nyatanya, penghasilan yang diterima ternyata hanya cukup untuk bertahan hidup. Uang yang dapat dikirimkan kepada keluarga di Garut pun sangat terbatas,” katanya di kediamannya, Selasa (8/9/2026).

Dikatakan, untuk menutupi kebutuhan kehidupan keluarganya di Garut dengan dua anak, dirinya terkadang hanya menerima kiriman sekitar Rp400 ribu. Pada kesempatan lain Rp700 ribu. Jumlah terbesar yang pernah diterima hanya sekitar Rp1 juta.

Bagi keluarga yang menunggu di kampung, uang tersebut tentu jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan dua orang anaknya.

Lebih lanjut dikatakannya, persoalan tidak berhenti pada kecilnya penghasilan. Yana dan rekan-rekannya juga disebut tidak mengetahui secara pasti perusahaan maupun lokasi tempat mereka bekerja.

Mereka bahkan pernah mengalami pemutusan kerja dan harus bertahan tanpa pekerjaan di negeri orang. “Bahkan suami saya itu tidak mengetahui sebetulnya dia itu bekerja di daerah mana. Entah bagaimanakah suami pun tidak mengetahui secara pasti di mana mereka bekerja, di perusahaan apa mereka bekerja. Bahkan pernah mereka diputus kerja sehingga beberapa waktu mereka menganggur di sana dan terlantar. Untung waktu itu ada warga Bangladesh yang menolong mereka dan mencarikan mereka kerja lagi,” ujarnya.

Dari satu rombongan yang berangkat dari wilayah Kecamatan Samarang, terdapat empat warga Garut. Kini, baru dua orang yang berhasil kembali ke tanah air.

Menurutnya, salah seorang di antaranya dipulangkan karena mengalami sakit berat. Sementara seorang lainnya dapat kembali setelah keluarganya di Garut berusaha mencari biaya kepulangan.

Upaya itu bahkan harus dibayar dengan pengorbanan besar. Keluarga tersebut terpaksa menjual tanah sawah untuk mendapatkan uang sekitar Rp7 juta sebagai ongkos perjalanan pulang.

Sedangkan suaminya ingin pulang, tapi terkendala dengan biaya.  Yana tidak memiliki cukup uang untuk membayar ongkos perjalanan pulang ke Indonesia. Keberangkatannya ke Malaysia yang diduga dilakukan melalui jalur ilegal juga membuat proses kepulangannya menjadi semakin rumit.

Diakuinya, untuk mengumpulkan uang sebesar Rp7 juta, ia mengaku tidak sanggup. Jangankan mengumpulkan biaya kepulangan suaminya, memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja sudah menjadi perjuangan.

“Sementara saya bagaimana bisa mencari uang sebesar itu karena untuk biaya hidup di sini juga saya kesulitan. Saya mengurus 2 orang anak yang masih kecil dan satu orang tua yang sudah jompo. Sebelumnya saya pernah menjadi buruh nyuci di kecamatan Samarang tapi sekarang ini ketika tinggal di rumah orang tua saya saya tidak lagi bekerja,” ujar Elvia sambil berurai air mata.

Yang bisa dilakukan Elvia kini hanyalah berharap ada jalan keluar. Ia berharap Pemerintah Kabupaten Garut, Bupati Garut Abdusy Syakur Amin, serta Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dapat membantu proses kepulangan Yana dan satu rekannya, Entis, yang hingga kini masih berada di Malaysia.

Bagi keluarga mereka, kepulangan bukan sekadar perjalanan dari Malaysia menuju Indonesia. Kepulangan berarti kesempatan untuk kembali memeluk keluarga, kembali melihat anak-anak tumbuh, dan kembali menjalani kehidupan tanpa rasa takut serta ketidakpastian.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Kabupaten Garut, Nia Gania Karyana, merespons informasi tersebut ketika dihubungi secara terpisah.

Nia meminta agar keluarga menyerahkan data warga Garut yang terlantar di Malaysia kepada Disnakertrans Kabupaten Garut sebagai dasar untuk proses bantuan kepulangan. “Silahkan minta surat permohonan ke dinas tenaga kerja dan dengan datanya,” ujar Nia Gania melalui sambungan WhatsApp.

Surat permohonan beserta data tersebut nantinya akan menjadi dasar bagi Disnakertrans Kabupaten Garut untuk menindaklanjuti upaya membantu kepulangan warga Garut yang masih berada di Malaysia.

Penulis: .S.Zihad

Izin Edar Alat Kesehatan
Primaderma Skincare

Tinggalkan Balasan