Perhelatan Jakarta International Convention Center (JICC) kembali menjadi saksi bisu pertemuan antara tradisi dan modernitas dalam ajang INACRAFT 2026. Di antara ribuan karya kerajinan yang memadati ruang pamer, Oerip Indonesia, jenama fesyen wastra asal Ngawi, Jawa Timur, mencuri perhatian dengan narasi filosofis yang mendalam. Melalui koleksi bertajuk “Sri Gading Lestari”, sang perancang, Dian Errakumalasari, mencoba menerjemahkan jalinan takdir manusia ke dalam helai-helai benang tenun Nusantara.
Menempati stan nomor 55–56, Oerip Indonesia tidak sekadar memamerkan busana siap pakai. Ruang tersebut bertransformasi menjadi galeri cerita, di mana setiap potong pakaian membawa beban sejarah dan nilai spiritual. Nama “Sri Gading Lestari” sendiri diambil dari sebuah fragmen legenda rakyat Jawa Timur yang sarat akan makna kesetiaan dan pengorbanan. Koleksi ini menjadi representasi visual dari pertemuan antara benang lungsi dan pakan, dua elemen dasar tenun yang diibaratkan sebagai roda kehidupan manusia yang terus berputar dalam harmoni.
Filosofi Lungsi dan Pakan sebagai Simbol Takdir
Dalam dunia tekstil tradisional, lungsi (benang vertikal) dan pakan (benang horizontal) adalah fondasi utama. Tanpa keterikatan keduanya, selembar kain tidak akan pernah tercipta. Bagi Dian Errakumalasari, proses menenun ini adalah metafora yang sempurna untuk menggambarkan eksistensi manusia. Lungsi melambangkan prinsip atau garis hidup yang telah ditetapkan, sementara pakan merepresentasikan dinamika, pilihan, dan usaha yang mengisi hari-hari manusia.
Koleksi Sri Gading Lestari menekankan pada tekstur dan kekuatan karakter kain tenun tangan (handwoven) yang dikumpulkan dari berbagai pelosok negeri. Setiap motif yang muncul bukan sekadar hiasan estetis, melainkan doa-doa yang dipanjatkan oleh para perajin di atas alat tenun bukan mesin (ATBM). Penggunaan material yang jujur dan teknik potong yang mempertahankan integritas kain menjadi ciri khas yang tetap dipertahankan oleh Oerip Indonesia dalam pameran kali ini.

“Tenun bukan sekadar komoditas fesyen; ia adalah rekaman peradaban yang ditenun dengan doa, ketabahan, dan waktu yang panjang. Melalui Sri Gading Lestari, kami ingin mengajak masyarakat untuk kembali melihat wastra sebagai cermin kehidupan. Benang lungsi dan pakan yang saling mengunci adalah simbol bahwa setiap pertemuan dan kejadian dalam hidup kita, sepahit apa pun itu, adalah bagian dari desain besar yang indah dan lestari. Kami ingin setiap orang yang mengenakan karya ini merasakan koneksi spiritual dengan para leluhur yang telah mewariskan teknik ini selama berabad-abad,” ujar Dian Errakumalasari, Founder Oerip Indonesia.
Menghidupkan Legenda Putri Madura di Atas Lembaran Kain
Pemilihan nama Sri Gading Lestari bukanlah tanpa alasan. Dalam khazanah tutur masyarakat Jawa Timur, Sri Gading Lestari dikenal sebagai putri dari Adipati Madura, Arya Wiraraja. Kisahnya yang melegenda tentang pengasingan diri demi mengejar cinta abadi bersama Pangeran Joko Taruno menjadi latar belakang emosional koleksi ini. Legenda tersebut juga merupakan asal-usul dari objek wisata Air Terjun Putuk Truno di Pasuruan, sebuah tempat yang hingga kini dianggap sakral dan penuh aura romantis.
Dian Errakumalasari mencoba menarik benang merah antara keteguhan hati sang putri dengan keteguhan para perajin tenun dalam menjaga tradisi. Sebagaimana Sri Gading Lestari yang memilih jalannya sendiri demi sebuah nilai yang ia yakini, para penenun di desa-desa terpencil Indonesia juga terus bertahan di tengah gempuran tekstil pabrikan yang masif. Koleksi ini menjadi penghormatan bagi mereka yang memilih untuk tetap “lestari” di tengah perubahan zaman.
Secara visual, pengaruh legenda ini tercermin dalam pemilihan palet warna dan siluet yang ditampilkan di INACRAFT 2026. Warna-warna tanah yang membumi berpadu dengan aksen warna gading yang elegan, menciptakan kesan yang megah namun tetap bersahaja. Potongan busana yang longgar dan mengalir seolah menggambarkan aliran air terjun yang menjadi saksi bisu kisah cinta abadi tersebut.
Misi Sosial dan Eksplorasi Belasan Tahun di Pelosok Nusantara
Kehadiran Oerip Indonesia di kancah nasional maupun internasional tidak terjadi dalam semalam. Dian Errakumalasari telah mendedikasikan dirinya selama lebih dari belasan tahun untuk menjelajahi wilayah-wilayah terpencil di Indonesia, mulai dari pegunungan di Timor hingga pesisir Sumatra. Perjalanan ini bukan sekadar pencarian material kain, melainkan sebuah misi sosial untuk memastikan keberlanjutan ekosistem tenun tradisional.
Di balik kemilau lampu pameran JICC, terdapat ribuan jemari perajin di desa-desa yang kesejahteraannya menjadi perhatian utama Dian. Melalui pendekatan yang ia sebut sebagai pendekatan spiritual dan sosial, Dian tidak hanya membeli kain, tetapi juga membangun hubungan emosional dengan para komunitas penenun. Ia memastikan bahwa nilai ekonomi dari setiap lembar kain yang ia olah kembali kepada mereka yang menciptakannya, sehingga regenerasi penenun muda dapat terus terjaga.
“Misi kami di Oerip Indonesia selalu berpijak pada keberlanjutan manusia di balik kain tersebut. Jika perajinnya tidak sejahtera, maka wastranya akan punah. Sri Gading Lestari adalah perayaan atas ketangguhan para ibu penenun di pelosok negeri. Saya melihat diri saya hanya sebagai penyambung lidah antara karya mereka dengan dunia modern. Setiap helai benang yang kami pamerkan di sini membawa harapan agar tradisi ini tidak hanya berhenti di museum, tetapi terus hidup dan relevan di badan generasi masa kini,” tambah Dian.
Wastra sebagai Identitas Nasional di Panggung Global
Secara historis, tenun Indonesia memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam struktur sosial masyarakat adat. Kain bukan hanya berfungsi sebagai pelindung tubuh, tetapi juga sebagai alat tukar, mahar pernikahan, hingga simbol status sosial. Dalam konteks modern seperti INACRAFT, tantangan bagi pelaku industri kreatif adalah bagaimana menjaga nilai-nilai luhur tersebut agar tidak tergerus oleh tren fesyen cepat (fast fashion).
Oerip Indonesia menjawab tantangan tersebut dengan konsistensi pada teknik konstruksi pakaian yang minim limbah (zero waste) dan penghormatan penuh pada motif asli daerah. Dengan mengangkat tema Sri Gading Lestari, Dian Errakumalasari membuktikan bahwa narasi lokal memiliki daya tarik universal yang kuat. Keindahan benang lungsi dan pakan yang dipamerkan di stan 55–56 menjadi bukti nyata bahwa wastra Nusantara mampu berdiri sejajar dengan produk fesyen global lainnya tanpa kehilangan jati dirinya.
Pameran ini diharapkan dapat memperluas jangkauan apresiasi masyarakat terhadap kain tenun, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat kriya dan wastra dunia. Melalui “Sri Gading Lestari”, Oerip Indonesia menegaskan bahwa masa depan fesyen Indonesia terletak pada kemampuannya untuk menoleh ke belakang, menggali akar budaya, dan menenunnya kembali menjadi karya yang abadi.

