Sikap Operator SMKN 3 Garut Dilaporkan ke Ketua MKPS dan  Pelayanan SPMB Menjadi Sorotan

Garut, jurnalkotatoday.com

Polemik pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) di SMKN 3 Garut kembali menjadi sorotan. Sejumlah orang tua siswa mengadukan sikap operator sekolah yang dinilai tidak kooperatif saat dimintai penjelasan terkait persoalan SPMB kepada Ketua Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah (MKPS) SMK Kabupaten Garut, Dedih Nurdin, Senin (22/6/2926).

Bacaan Lainnya

Pengaduan tersebut berkaitan dengan keluhan orang tua calon siswa mengenai pelayanan yang diterima saat berupaya mencari solusi atas permasalahan akun pendaftaran yang disebut terkunci dalam sistem SPMB.

Menanggapi laporan tersebut, Ketua MKPS SMK Kabupaten Garut, Dedih Nurdin, menilai sikap operator yang dikeluhkan masyarakat kemungkinan dipengaruhi oleh kondisi kelelahan akibat beban pekerjaan maupun faktor pribadi yang sedang dihadapi.

“Mohon maaf dengan segala hormat, mungkin  operator tadi merasakan sebuah keadaan yang tidak nyaman, mungkin karena kelelahan dengan tugas yang sudah menjemukan, karena dari pagi, misalkan stand by terus bekerja, sehingga penguasaan emosionalnya tak terkendali, mungkin seperti itu, atau mungkin juga ada satu keadaan yang dia rasakan sedang tidak nyaman secara personal, sehingga Bapak sebagai tamunya tidak  tidak diperlakukan sebagaimana mestinya,” ujarnya.

Meski demikian, Dedih menegaskan bahwa pelayanan kepada masyarakat harus tetap menjadi perhatian utama l, dan kejadian tersebut diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi semua pihak.

“Tentunya dalam hal ini ya saya menganggap itu sesuatu hal yang sebetulnya tidak diinginkan, tapi itu karena sudah terjadi, ya mudah-mudahan jadi sebuah perbaikan buat semua sebagai bentuk pelayanan kita,” katanya.

Ketika ditanya mengenai standar yang seharusnya dimiliki seorang operator sekolah dalam menjalankan tugasnya, Dedih menekankan pentingnya profesionalisme dan pelayanan yang baik kepada masyarakat.

“Memberikan apa pelayanan dengan baik, bekerja dengan baik, tanpa ada kesan bahwa ya seperti apa yang bapak sampaikan tidak ada istilah arogansi, tapi kita bersama-sama menyikapi menjalani dan menyadari bahwa ini adalah tugas yang harus dilaksanakan dengan baik,” katanya.

Berawal dari Polemik Akun SPMB Terkunci

Keluhan orang tua siswa bermula dari persoalan akun calon siswa yang disebut masih terkunci dalam sistem SPMB sehingga tidak dapat digunakan untuk mendaftar ke sekolah lain.

Sebelumnya, polemik tersebut juga memunculkan perbedaan keterangan antara tim verifikator sekolah dengan operator Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Wilayah XI Jawa Barat.

Tim verifikator disebut menyampaikan bahwa keterlambatan penanganan akun terjadi, karena operator KCD XI sedang bertugas selama tiga hari di wilayah Garut Selatan. Namun keterangan itu dibantah oleh operator KCD XI Jawa Barat.

“Tidak pak tidak benar. Saya itu tugas satu hari ke selatan mendampingi analis terkait pembinaan sekolah. Jadi informasi saya tugas ke lapangan 3 hari itu tidak benar,” katanya, (19/6/2916).

Ia juga menegaskan perlunya meluruskan informasi yang dinilai tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. “Saya perlu tahu dulu siapa verifikatornya kalau memang betul apa yang beliau sampaikan terkait informasi itu, Saya punya kewenangan untuk membantah itu,” katanya.

Evaluasi Pelayanan

Salah seorang orang tua calon siswa berinisial AN sebelumnya menjelaskan bahwa Anaknya Diterima di sekolah lain melalui jalur SPMB, termasuk SMKN 3 Garut

“Lalu anak kami pun mengklik pilihan-pilihan tersebut salah satunya adalah SMKN 3 Garut. Karena anak kami memang berprestasi nilai raportnya bagus dan diterima oleh sekolah lain  salah satunya oleh SMKN 3 Garut,” ujarnya.

Namun setelah keluarga memutuskan memilih sekolah lain, akun pendaftaran anaknya disebut masih terkunci sehingga tidak dapat digunakan kembali.

Menurut keterangan yang diterimanya dari petugas KCD XI Jawa Barat, akun KCD saat itu tidak dapat digunakan untuk melakukan reset karena akses tertentu sedang dinonaktifkan.

“Akun KCD 11 Jabar sedang nonaktif untuk mereset . Tidak bisa mengklik reset karena oleh dinas pendidikan provinsi dinonaktifkan,” ujarnya.

Petugas tersebut juga menjelaskan bahwa operator sekolah memiliki kewenangan untuk mengeluarkan akun calon siswa dari sistem agar dapat kembali aktif.

“Oleh operator sekolah bisa ditolak sehingga akun anak bapak ibu aktif kembali untuk mendaftar,” ujarnya.

Berbekal informasi tersebut, orang tua siswa bersama awak media mendatangi SMKN 3 Garut untuk meminta penjelasan. Namun, mereka mengaku tidak memperoleh respons yang diharapkan.

Saat dimintai keterangan oleh awak media, operator sekolah menyampaikan:

“Untuk apa bapak wawancara saya…Saya Tidak mau diwawancara pak  banyak kerjaan dan untuk Apa bapa Nanya Nama saya,” ujarnya.

Atas rangkaian peristiwa tersebut, orang tua siswa berharap adanya evaluasi terhadap pelayanan SPMB, khususnya dalam penanganan keluhan masyarakat, mekanisme pengelolaan akun peserta, serta sikap petugas yang berhadapan langsung dengan publik.

Selain itu, mereka juga meminta perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Barat agar pelayanan pendidikan selama proses penerimaan murid baru, dapat berjalan lebih baik dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

“Kami berharap kepada pak Gubernur Jawa Barat untuk melakukan Teguran atau sanksi terhadap operator SMKN 3 Garut yang seperti ini. Ini sangat berbahaya untuk kelangsungan pendidikan di Indonesia khususnya di Jawa Barat,” ujarnya. H.Ujang Slamet

Izin Edar Alat Kesehatan
Primaderma Skincare

Tinggalkan Balasan